VIDEO DENSUS 88

Loading...

Another success for Detachment 88

Another success for Detachment 88 (Densus 88)


Last weekend's arrest of Abu Dujana, the alleged leader of regional terrorist network Jemaah Islamiyah (JI), by Indonesia's anti-terror squad has deservedly won Jakarta widespread praise. The capture of the Afghan-trained militant may also help to dampen renewed enthusiasm in the US Congress for yet another proposal to cut military aid to Jakarta.

One of the most valuable benefits of the closer relationship between President Susilo Bambang Yudhoyono and President George W Bush has been the strengthening of the US-trained and
equipped elite police counter-terrorism team, known locally as Detachment 88 (Densus 88) , first set up during the administration of president Megawati Sukarnoputri in 2003, only months after the first Bali bombings.

Equipped with US weaponry and assault vehicles, including Colt M4 assault rifles, Armalite AR-10 sniper rifles and Remington 870 shotguns, the elite unit has become one of the top anti-terror units, if not the top, in the world, during Yudhoyono's watch.

Australian Foreign Minister Alexander Downer this week praised Indonesia for doing "an outstanding job in combating terrorism". Although there have been scores of arrests and convictions since the first Bali bombings in 2002, with more than 220 suspects jailed for terrorist activities since then, the battle against terrorism in Indonesia is far from over.

Police said last year that Dujana had replaced Noordin Mohamed Top, the Malaysian bomb-maker who allegedly supplied suicide bombers and materials used in terrorist attacks as Indonesia's most wanted fugitive. Top's alleged accomplice, Malaysian master bomb-maker Azahari bin Husin, was killed in a November 2005 shootout with Detachment 88 in the terror squad.

If allegations against him are proved to be true, Dujana certainly has a lot of blood on his hands. He is believed to have played a major role in the 2002 and 2005 Bali bombings and the Australian Embassy blast, as well as having a hand in the supply of ammunition and explosives to militants involved in sectarian violence in Poso, Central Sulawesi province. He is also thought to have played a role in the 2003 blast at the JW Marriott Hotel in Jakarta.

Australian Federal Police Commissioner Mick Keelty has warned that the effort needed to eradicate terrorism in Indonesia is "not a sprint, but a marathon".

Indonesian National Police Chief General Sutanto has called for tougher laws to fight terrorism, and says current legislation impedes investigations. Anti-terrorism chief General Ansyaad Mbai adds that the security forces lack authority to take preemptive action on those suspected of plotting terrorist strikes. On the other hand, radical Muslim groups strongly oppose tougher anti-terror laws, saying they could violate human rights.

The 2003 Anti-terrorism Law allows detention of suspects for seven days for questioning. If no evidence is provided by the police in that period, they must be released.

Proposed revisions to the existing law, which Mbai has described as the world's "softest" law against terrorism, would allow detention for a further six months for questioning and prosecution. Intelligence reports would be acceptable and admissible prima facie evidence for granting a detention order.

This March, Detachment 88 (Densus 88) captured seven suspects thought to be members of Dujana's network during raids in Central and East Java. Caches of weapons, explosives and chemicals were seized that could have produced a bomb bigger than those used in Bali in October 2002. Rights campaigners allege that crackdowns by Detachment 88 have spawned rights violations and claim most of the arrests made were illegal.

Yet for Indonesia, with the world's biggest population of Muslims, the strong-arm tactics of neighbors Malaysia and Singapore, where suspects can be held indefinitely without charge or trial, is an unlikely option.

SEKILAS DENSUS 88









Sekilas Tentang DENSUS 88 (Detasemen Khusus 88) Anti Teror Mabes Polri

Berdasarkan Surat Keputusan Kapolri No. Pol. : Skep/756/X/2005, tentang Pengesahan Pemakaian Logo Densus 88 Anti Teror, tanggal 18 Oktober 2005, maka berikut ini adalah LOGO DENSUS 88 ANTI TEROR.
Logo dapat dideskripsikan sebagai berikut:

Berupa desain lingkaran dengan garis warna hitam dengan tulisan “DETASEMEN KHUSUS 88 ANTI TEROR” dengan latar belakang warna merah marun dan di tengah-tengah lingkaran terdapat gambar burung hantu warna hitam dan abu-abu dengan latar belakang warna kuning terang.
Detasemen Khusus 88 atau Densus 88 adalah satuan khusus Kepolisian Negara Republik Indonesia untuk penanggulangan teroris di Indonesia. Pasukan khusus berompi merah ini dilatih khusus untuk menangani segala ancaman teror, termasuk teror bom. Beberapa anggota juga merupakan anggota tim Gegana.

Densus 88 dirancang sebagai unit antiteroris yang memiliki kemampuan mengatasi gangguan teroris mulai dari ancaman bom hingga penyanderaan. Densus 88 di pusat (Mabes Polri) berkekuatan diperkirakan 400 personel ini terdiri dari ahli investigasi, ahli bahan peledak (penjinak bom), dan unit pemukul yang di dalamnya terdapat ahli penembak jitu. Selain itu masing-masing kepolisian daerah juga memiliki unit anti teror yang disebut Densus 88, beranggotakan 45 – 75 orang, namun dengan fasilitas dan kemampuan yang lebih terbatas.

Fungsi Densus 88 Polda adalah memeriksa laporan aktifitas teror di daerah.Melakukan penangkapan kepada personil atau seseorang atau sekelompok orang yang dipastikan merupakan anggota jaringan teroris yang dapat membahayakan keutuhan dan keamanan negara R.I.

Densus 88 adalah salah satu dari unit anti teror di Indonesia, disamping :
  • Detasemen C Gegana Brimob,
  • Detasemen Penanggulangan Teror (Dengultor) TNI AD alias Grup 5 Anti Teror,
  • Detasemen 81 Kopasus TNI AD (Kopasus sendiri sebagai pasukan khusus juga memiliki kemampuan anti teror),
  • Detasemen Jalamangkara (Denjaka) Korps Marinir TNI AL,
  • Detasemen Bravo (Denbravo) TNI AU, dan satuan anti-teror BIN.

Satuan ini diresmikan oleh Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Inspektur Jenderal Firman Gani pada tanggal 26 Agustus 2004. Detasemen 88 yang awalnya beranggotakan 75 orang ini dipimpin oleh Ajun Komisaris Besar Polisi Tito Karnavian yang pernah mendapat pelatihan di beberapa negara.

Densus 88 dibentuk dengan Skep Kapolri No. 30/VI/2003 tertanggal 20 Juni 2003, untuk melaksanakan Undang-undang No. 15 Tahun 2003 tentang penetapan Perpu No. 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, yaitu dengan kewenangan melakukan penangkapan dengan bukti awal yang dapat berasal dari laporan intelijen manapun, selama 7 x 24 jam (sesuai pasal 26 & 28). Undang-undang tersebut populer di dunia sebagai “Anti Teror Act”.

Angka 88 berasal dari kata ATA (Anti Terror Act), yang jika dilafalkan dalam bahasa Inggris berbunyi Ei Ti Ekt. Pelafalan ini kedengaran seperti Eighty Eight (88). Jadi arti angka 88 bukan seperti yang selama ini beredar bahwa 88 adalah representasi dari jumlah korban bom bali terbanyak (88 orang dari Australia), juga bukan pula representasi dari borgol.
filosofi-densus-88

Pembentukan Detasemen 88

Pembentukan Detasemen 88

Satuan ini diresmikan oleh Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Inspektur Jenderal Firman Gani pada tanggal 26 Agustus 2004. Detasemen 88 yang awalnya beranggotakan 75 orang ini dipimpin oleh Ajun Komisaris Besar Polisi Tito Karnavian yang pernah mendapat pelatihan di beberapa negara.[rujukan?]

Densus 88 dibentuk dengan Skep Kapolri No. 30/VI/2003 tertanggal 20 Juni 2003, untuk melaksanakan Undang-undang No. 15 Tahun 2003 tentang penetapan Perpu No. 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, yaitu dengan kewenangan melakukan penangkapan dengan bukti awal yang dapat berasal dari laporan intelijen manapun, selama 7 x 24 jam (sesuai pasal 26 & 28). Undang-undang tersebut populer di dunia sebagai "Anti Teror Act".

Angka 88 berasal dari kata ATA (Anti Terror Act), yang jika dilafalkan dalam bahasa Inggris berbunyi Ei Ti Ekt. Pelafalan ini kedengaran seperti Eighty Eight (88). Jadi arti angka 88 bukan seperti yang selama ini beredar bahwa 88 adalah representasi dari jumlah korban bom bali terbanyak (88 orang dari Australia), juga bukan pula representasi dari borgol.[rujukan?]

Pasukan khusus ini dibiayai oleh pemerintah Amerika Serikat melalui bagian Jasa Keamanan Diplomatik (Diplomatic Security Service) Departemen Negara AS dan dilatih langsung oleh instruktur dari CIA, FBI, dan U.S. Secret Service.[rujukan?] Kebanyakan staf pengajarnya adalah bekas anggota pasukan khusus AS. Informasi yang bersumber dari FEER pada tahun 2003 ini dibantah oleh Kepala Bidang Penerangan Umum (Kabidpenum) Divisi Humas Polri, Kombes Zainuri Lubis, dan Kapolri Jenderal Pol Da’i Bachtiar. [1] Sekalipun demikian, terdapat bantuan signifikan dari pemerintah Amerika Serikat dan Australia dalam pembentukan dan operasional Detasemen Khusus 88. Pasca pembentukan, Densus 88 dilakukan pula kerjasama dengan beberapa negara lain seperti Inggris dan Jerman. Hal ini dilakukan sejalan dengan UU Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme pasal 43.

Densus 88 Tangkap Rekan Kastari di Bandarlampung


Densus 88 Tangkap Rekan Kastari di Bandarlampung

Densus 88 Anti Teror Mabes Polri berhasil menangkap Syamsul (50), anggota teroris jaringan Selamat Kastari, di sebuah rumah di Jalan Hayam Wuruk, Gang Rangkok, Desa Kedamaian, Kecamatan Tanjung Karang Timur, Bandarlampung, Minggu petang (21/6) lalu pukul 18.30 WIB.

Menurut Direktur Reskrim Polda Lampung, Kombes Darmawan Sutawijaya, di Bandarlampung Rabu, penangkapan itu dilakukan dengan sangat rahasia, setelah polisi mengintainya selama tiga bulan.

Dari penyelidikan polisi, dia merupakan salah seorang anggota jaringan teroris Mas Selamat bin Kastari (biasa dipanggil Selamat Kastari) dan Fajar Taslim yang pernah merencanakan pengeboman Bandara Changi, Singapura.

Syamsul yang berkewarganegaraan Singapura itu sehari-harinya bekerja sebagai tukang becak di kawasan Pasar Tugu, Bandarlampung.

Menurut anggota Densus 88 Polda Lampung, Kompol Anwari, Syamsul adalah anak buah Kastari.

Densus 88 Amankan Peralatan untuk Merakit Bom di Pondok Kopi

Densus 88 Amankan Peralatan untuk Merakit Bom di Pondok Kopi
E Mei Amelia R - detikNews


Jakarta - Tim Detasemen Khusus 88 Anti Teror terus menyisir lokasi-lokasi penangkapan terduga teroris. Di lokasi penangkapan di Pondok Kopi, Duren Sawit, Jakarta Timur, Densus mengamankan peralatan untuk merakit bom.

"Ada beberapa bekas untuk itu, beberapa alat yang ada kaitannya untuk kegiatan pembuatan bom itu seluruhnya diambil," kata Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Sutarman kepada wartawan, Kamis (21/4/2011).

Hal itu diungkapkan Kapolda di sela-sela kunjungannya ke Gereja Katedral, Jl Ir H Juanda, Kelurahan Pasarbaru, Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat.

Namun, lanjutnya, di lokasi tersebut, tim tidak menemukan adanya bom seperti yang ditemukan di Jalur Pipa Gas (JPG) Summarecon Gading Serpong, Kabupaten Tangerang, Banten.

Kapolda mengungkapkan, tim Densus 88 terus menyisir sejumlah lokasi yang disebut oleh para terduga teroris yang sudah tertangkap itu.

"Masih disisir semua, bekas-bekas yang ditangkap kemarin, dikembangkan terus dan menyebut temapt-tempat lain," katanya.

Sebelumnya, tim menangkap 4 terduga teroris di Desa Rawa Wadas RT 1/03, Pondok Kopi, Duren Sawit, Jakarta Timur. Keempat pria yang ditangkap itu merupakan kelompok teroris bom buku.

Kisah Penyamaran Densus 88

Kisah Penyamaran Densus 88
Bos DAMRI dan Lampu Mati...

NONTON TKP: Masyarakat menonton kegiatan olah TKP dari luar rumah kontrakan yang dihuni kelompok Noordin M Top di Dusun Binangun, Desa Wringinanom, Kertek, Wonosobo, Minggu (30/4). (30n) - SM/Sudarman.

BANYAK orang tak menyangka, Detasemen Khusus 88 Antiteror Mabes Polri akan datang ke Dukuh Binangun, Kelurahan Wringinanom, Kecamatan Kertek, Wonosobo untuk menggerebek sarang teroris.

Setelah drama penyerbuan itu berakhir, warga baru bisa menghubungkan beberapa peristiwa janggal yang terjadi selama hampir dua pekan menjelang penggerebekan.

Entah benar entah tidak, namun kejanggalan-kejanggalan tersebut amat mungkin merupakan bagian dari skenario polisi untuk memuluskan operasi. Kejanggalan itu antara lain terlihat ketika ada orang yang tiba-tiba mengaku-ngaku sebagai bos DAMRI datang dan memberi perintah tak lazim kepada pegawai di pangkalan bus tersebut. Pangkalan itu terletak persis di sebelah timur rumah kontrakan yang dihuni anak buah Noordin M Top.

Sugiyono, penjaga pangkalan itu mengisahkan, Jumat malam (28/4) ia didatangi empat pegawai DAMRI dari Jakarta yang tidak dikenalnya. Mereka memakai seragam DAMRI seperti yang dia kenakan.

Tak satu pun menyebutkan nama. Salah seorang yang berbadan tegap mengaku sebagai atasannya. Sugiyono percaya karena gerak-gerik dan gaya bicara mereka amat meyakinkan.

''Pegawai DAMRI pusat itu mengaku bos saya dan akan menginap untuk mengecek administrasi dan kondisi armada,'' tuturnya.

Sugiyono mengaku sepanjang malam ngobrol dengan sang ''bos''. Dia tidak menaruh syak wasangka. Bahkan ketika lelaki itu bertanya apakah kenal penghuni rumah sebelah, Sugiyono masih belum curiga. Ia tak menduga bahwa pria tersebut adalah polisi yang menyamar.

Barulah pada pagi harinya, sekitar pukul 04.30, Sugiyono mencium kejanggalan. Pasalnya, atasan dadakan itu menyuruh dia pergi tanpa alasan yang jelas. Meski demikian, Sugiyono tetap menuruti perintah itu.

Sugiyono baru tahu ada penggerebekan saat kembali ke pangkalan bus sekitar pukul 10.00. Ia terkejut melihat sekeliling tempat kerjanya dipasangi garis polisi dan banyak petugas hilir mudik. Tak sedikit yang bersenjata lengkap.

Setelah bertanya sana-sini dan merunutkan kejadian pada malam sebelumnya, ia pun mulai paham apa yang terjadi. Sugiyono menyimpulkan, sang bos adalah anggota Densus 88 yang sedang menyamar. Apalagi setelah penggerebekan itu usai, pria yang mengaku bos tersebut tak pernah lagi menampakkan batang hidungnya.

Pemulung dan Pemancing

Kejanggalan lain adalah munculnya sejumlah pemulung yang tiap hari mondar-mandir di jalan depan rumah kontrakan tersangka. Lalu, tampak pula beberapa pemancing yang mengail ikan di selokan seberang jalan.

Padahal, selokan yang lebarnya tak sampai satu meter itu hanya dihuni ikan-ikan kecil yang tak lebih besar dari pensil.

Supriyono, yang tinggal dan membuka warung makan di seberang rumah para teroris itu mengatakan kerap menemui wajah baru yang datang ke warungnya, sepekan sebelum penggerebekan.

''Saya juga sering melihat pemulung yang mondar-mandir di depan rumah itu. Padahal sebelumnya jarang sekali ada pemulung lewat,'' tambahnya.

Satu lagi keanehan yang kini baru disadari warga adalah soal lampu penerangan jalan yang padam. Janggal, karena lampu yang mati itu hanya lima titik di sepanjang jalan depan kontrakan para teroris.

Sementara itu, lampu-lampu lainnya di sepanjang Jl Wonosobo-Kertek KM 4 itu menyala terang.

Salah seorang warga, Budi Sumarno (40) menceritakan, lampu-lampu tersebut mati sepuluh hari sebelum penggerebekan.

''Semula saya anggap itu hanya kejadian biasa. Mungkin lampu padam karena rusak. Apalagi sehari sebelumnya ada petugas PLN yang membetulkan lampu-lampu,'' ujar Budi yang rumahnya berjarak sekitar 20 meter arah barat tempat tinggal tersangka.

Dia kini menduga-duga, pemadaman itu adalah bagian dari drama penggerebekan oleh polisi. Sebab, setelah penyerbuan, lampu kembali menyala pada malam harinya.

Bapak dua anak tersebut menyatakan baru tahu di dekat rumahnya ada markas teroris, setelah beberapa polisi mendatangi rumahnya pada Sabtu (29/4) sekitar pukul 05.00.

''Saya terkejut karena tidak biasanya ada polisi datang. Mereka meminta keluarga saya diam dulu di rumah. Kalau keadaan sudah aman, barulah kami boleh keluar,'' tuturnya.

Dengan panik, dia bersama istri dan dua anaknya masuk kamar setelah mendengar suara tembakan dan ledakan bertubi-tubi. Saat itu dia hanya bisa berdoa semoga keluarganya selamat dan ledakan tidak sampai memorak-porandakan rumah mereka.

''Sampai sekarang saya masih trauma karena baru kali ini mendengar tembakan seperti ada perang di dekat rumah saya,'' ujarnya.

Densus 88 Awasi Gilimanuk

Densus 88 Awasi Gilimanuk

Pelabuhan penyeberangan Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Bali, hingga kini terus dijaga ketat aparat kepolisian. Bahkan, untuk memperketat pengawasan pintu masuk bagian barat Pulau Dewata itu, telah diterjunkan polisi anti-teror Densus 88.

Kabid Humas Polda Bali Kombes I Gede Sugianyar dihubungi di Denpasar, Senin, menyebutkan pelibatan Densus 88 di Gilimanuk sebagai upaya menambah kekuatan guna mengantisipasi kemungkinan masuknya pelaku teroris.

"Densus 88 bertugas membantu aparat Polres Jembrana yang setiap hari siaga di Pelabuhan Gilimanuk," tandasnya seraya menyebutkan, pengamanan pelabuhan feri yang menghubungkan Pelabuhan Feri Ketapang, Kabupaten Banyuwangi, Jatim, itu juga dibantu anggota TNI.

Sementara itu, Kapolres Jembrana AKBP Ketut Suardana mengatakan, pihaknya tidak pandang bulu dalam melakukan pemeriksaan di Gilimanuk, dengan memeriksa setiap kendaraan dan semua penumpangnya.